My Beautiful Life #1

Jika ada orang yang paling bodoh di dunia ini pasti saya orangnya. Ya, sejak saya dilahirkan ke dunia yang bodoh ini, kebodohan selalu ada di sekitar saya. Nama saya David, tapi kebanyakan orang lebih senang memanggil saya dengan nama Botak. Saya tidak botak, tidak terlalu botak lah, hanya saja rambut saya terlalu sering dipotong cepak. Tiap kali datang ke potong rambut madura, saya cuma bilang bros 1 senti dan beginilah hasilnya. Saya lahir di Semarang yang terkenal dengan banjir rob-nya. Menimba ilmu secara asal-asalan di sejumlah sekolah swasta tetapi selalu berhasil dengan kebodohan dan keberuntungannya.

Semasa SD saya hanyalah anak kecil biasa yang bodoh dan cengeng. Selalu kalah dengan teman-teman yang lain termasuk dalam hal akademis. SMP pun tidak jauh berbeda, ketika teman-teman seumuran sudah mulai berpacaran, saya hanya bisa memandang mereka bermesraan dari kejauhan bersama teman-teman senasib dan sepenanggungan. Sungguh pengalaman masa kecil yang mengenaskan. Masuk ke sebuah SMA swasta favorit secara beruntung agaknya sedikit membawa perubahan bagi kehidupan saya. Bukan berarti saya menjadi pintar, tampan, dan diidolakan kaum hawa, melainkan pola pandang saya akan kehidupan yang selama ini saya jalani sendiri. Pacar adalah satu dari sekian banyak kesenangan yang tidak akan membuat kita hampa tanpanya. Kehidupan lain di luar kehidupan saya adalah sebuah anugerah tak terkira yang seakan selalu menyemarakkan kehidupan saya.

Mengamati orang-orang di sekitar saya seakan memberi warna baru dalam kehidupan saya. Kebahagiaan mereka menjalani aktivitas sehari-hari mereka yang terkadang tidak mampu untuk kita lakukan. Kesetiaan mereka pada apa yang mereka kerjakan setiap hari tanpa mengenal bosan. Derasnya keringat yang mengucur dan keletihan mereka tidak menjadi alasan bagi mereka untuk menyerah pada kerasnya hidup di dunia. Bila mereka saja tak pernah menyerah dengan segala kebosanan dan keletihan itu dan kemudian menghabiskan waktu untuk menggerutu, lalu mengapa saya harus terdiam terpaku dan menggerutu menyesali semua yang saya alami? Bukankah akan lebih baik dan berguna jika saya menggunakan kesempatan yang masih saya miliki untuk terus mengejar apa yang masih bisa saya dapatkan di kemudian hari?

Saya pun bangkit dari keterpurukan itu dan mencoba meraih kesempatan yang ada. Memang Tuhan tidak akan pernah mengabaikan usaha kita. Di akhir kelas 2 SMA, saya memiliki pacar untuk pertama kalinya. Tidak terlalu cantik, tapi juga tidak jelek. Yang jelas, terkadang saya merasa dia masih terlalu baik untuk orang seperti saya. Dia jauh lebih pintar dari saya, berasal dari status ekonomi dan sosial yang lebih tinggi dari saya, serta berpostur lebih tinggi dari saya juga. Sayangnya hubungan itu harus kandas setelah kami terpisah jauh selama kuliah. Saya melanjutkan studi di Jogja sedangkan dia beranjak ke Jakarta. Keegoisan saya yang menjadi penyebab utama kandasnya hubungan itu. Sekali lagi saya terjatuh ke jurang yang sama. Hidup saya seolah menjadi hampa kembali tanpa adanya seorang wanita.

Di saat teman-teman lain mulai menjajaki hubungan serius dengan pacar mereka, saya justru kehilangan seorang pacar. Keinginan untuk mencari pacar baru pun selalu layu sebelum berkembang karena kendala teknis seperti otak pas-pasan, tampang pas-pasan, dan duit pas-pasan. Alhasil, kembalilah saya meratapi kehidupan saya yang amat merana ini hingga pada akhirnya mata hati saya terbuka dan melihat lagi kehidupan di sekitar saya. Begitu tegarnya perjuangan orang-orang di sekitar saya membuat saya tersadar dan malu pada diri saya sendiri. Mengapa saya harus terjatuh di lubang yang sama untuk kedua kalinya? Toh sekarang saya sudah menemukan dunia saya yang baru. Dunia yang menjanjikan kesempatan emas bagi saya apabila saya mau mengejarnya. Lagipula hidup tidak akan berakhir tanpa adanya seorang wanita yang menemani. Justru hidup akan berakhir ketika kita tidak mau lagi berjuang untuk meraih apa yang ada di depan kita.

Kehidupan lain di luar kehidupan saya telah memberi banyak pelajaran berharga. Pelajaran yang tidak akan pernah kita dapatkan dari orangtua kita dan bahkan sama sekali tidak akan kita dapatkan dari pendidikan akademik. Pelajaran yang hanya akan kita dapatkan ketika kita mau membuka hati kita untuk melihat, mendengar, dan merasakan kehidupan lain di luar kehidupan kita. Pelajaran yang hanya akan kita dapatkan ketika kita mencoba memahami penderitaan bukanlah alasan untuk berhenti berjuang. Bukan membiarkan yang di luar untuk masuk ke dalam, tetapi membiarkan yang di dalam keluar dan bersentuhan dengan sekitar.
 Botax

Tidak ada komentar:

Posting Komentar